Seorang wanita bernama Min Jung mengalami kejutan besar ketika kekasihnya, setelah tiga tahun pacaran, tiba-tiba menyatakan tidak tertarik untuk menikah. Meskipun terpukul, Min Jung memutuskan impulsif untuk mendaftar ke biro jodoh setelah melihat sebuah iklan. Keputusan ini membawanya bertemu dengan Tae Hyung, yang kini menjadi suaminya.
-
Kisah Pernikahan Berawal dari Biro Jodoh:
-
Pertemuan Tanpa Cinta pada Pandangan Pertama: Meskipun bukan cinta pada pandangan pertama, Min Jung dan Tae Hyung merasa cocok satu sama lain sejak kencan pertama mereka yang diatur oleh biro jodoh.
-
Penilaian Berbasis Profil: Biro jodoh Korea Selatan, sebelum menentukan pertemuan antar klien, menilai berbagai aspek seperti pekerjaan, aset keuangan, dan latar belakang keluarga, meski pendekatan ini menuai kritik sebagai terlalu materialistis.
-
Kembangnya Hubungan: Kini, sebagai pemilik toko wine, pasangan ini, yang sama-sama bekerja di kantor di Seoul, membuka babak baru dalam kehidupan mereka.
-
Boomingnya Industri Biro Jodoh:
-
Peningkatan Penggunaan Selama Pandemi: Dengan terbatasnya kesempatan untuk pertemuan alami selama pandemi Covid-19, semakin banyak individu, termasuk para profesional muda, beralih ke perjodohan melalui agensi.
-
Perubahan Persepsi: Terjadi pergeseran persepsi di kalangan generasi muda, yang kini melihat biro jodoh sebagai sarana untuk menemukan pasangan sesuai kriteria, bukan hanya untuk mereka yang gagal menikah.
-
Tantangan dan Realita Perjodohan:
-
Tetap Ada Tantangan: Meskipun diuntungkan oleh bantuan biro jodoh, beberapa individu merasa prosesnya kurang personal dan terlalu fokus pada status sosial dan materi.
-
Biaya dan Harapan yang Tak Tercapai: Biaya tinggi dan kadang-kadang standar yang sulit dipenuhi membuat beberapa klien merasa tertekan, seperti pengalaman seorang guru yang tidak menemukan kecocokan sepuluh tahun lalu.
-
Konteks Sosial Korea Selatan:
-
Menurunnya Angka Pernikahan: Meskipun adanya lonjakan penggunaan biro jodoh, Korea Selatan masih menghadapi penurunan drastis dalam angka pernikahan dan kelahiran, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jam kerja panjang dan biaya hidup tinggi.
-
Langkah Pemerintah: Melalui program seperti acara kencan kilat dan dukungan finansial, pemerintah berupaya memerangi tren menurunnya angka kelahiran dan menyuburkan kembali budaya pernikahan.
-
Pandangan Individu dan Kritik:
-
Intervensi Pemerintah: Sebagian menyambut langkah pemerintah, namun ada pula yang mengkritik campur tangan yang dianggap melampaui batas, sambil menekankan perlunya fokus pada isu seperti cuti melahirkan dan biaya hidup tinggi.
-
Hak Memilih Sendiri: Min Jung dan Tae Hyung, sambil mengakui upaya pemerintah, menegaskan bahwa keputusan untuk menikah adalah hak pribadi mereka, bukan sekadar menuruti desakan sosial.